Sidang Sinode GBIN dengan semangat melayani sampai Tuhan datang

0
IMG-20250623-WA0102

Jakarta – Sinode Gereja Bethel Injili Nusantara (GBIN) menggelar Sidang Sinode Perdana dengan mengusung tema “Melayani Terus Sampai Tuhan Datang” dan hari jadinya yang ke-2, di Menara Peninsula Hotel, Jakarta Barat, Selasa-Kamis, 17-19 Juni 2025. Semangat tema yang diambil nats 1 Korintus 15:58 itu diwujud nyatakan dengan kehadiran para hamba Tuhan dari berbagai daerah di seluruh penjuru Nusantara. Walaupun gereja sinode ini baru berusia dua tahun, telah menjangkau 15 provinsi di Indonesia. Hal ini menjadi bukti bahwa pelayanan yang dilakukan dengan iman dan kesetiaan, sekecil apapun, dapat membawa dampak besar. “Pelayanan Itu Bukan Sekedar Aktivitas Rohani, Tetapi Mandat Surgawi” kata Ketua Sinode GBIN, Pdt, Dr, Melianus H. Kakiay, M.Th, Dalam khotbahnya, Pdt. Ferry, begitu biasa Pdt, Kakiay akrab dipanggil, mengajak seluruh umat percaya untuk tidak lelah melayani Tuhan. “Jika kita melayani Tuhan, jerih payah kita tidak akan sia-sia. Mujizat Tuhan terjadi ketika umat-Nya berkumpul. Jangan tinggalkan gereja mula-mula, sebab dari sanalah kuasa Tuhan dinyatakan!” ujarnya.

dt. Ferry memaparkan lima alasan mengapa kita harus melayani terus sampai Tuhan datang:

  1. Melayani adalah perintah Tuhan (Matius 24:46),
  2. Karena kita telah menerima talenta dan kepercayaan dari Tuhan,
  3. Dunia memerlukan terang—dan terang itu adalah kita,
  4. Pelayanan mempersiapkan kita menyambut kedatangan Kristus, dan
  5. Ada upah dan mahkota yang Tuhan sediakan (2 Timotius 4:7-8).

Ia juga mengingatkan bahwa pelayanan sejati tidak didasarkan pada motivasi materi atau legalitas formal. “Kita melayani bukan untuk perpuluhan dan kolekte. Pelayanan adalah kehendak Tuhan, dan dilindungi oleh Surga dan juga oleh konstitusi negara, UUD 1945. Dunia ini semakin gelap, maka kita harus jadi terang. Terus melayani sampai Tuhan datang!,” katanya menutup khotbahnya mengutip nats Wahyu 2:10.

Di acara itu, semangat ke-Nusantara-an pun ditujukan para peserta sidang sinode dengan mengenakan pakaian adat daerah asal mereka masing-masing. Ragam pakauan budaya ini memperlihatkan kekayaan bangsa dan menjadi ciri khas GBIN sebagai gereja yang inklusif dan nasionalis. Selain anggota sinode, acara itu turut juga dihadiri tamu undangan, diantaranya: Pdt. Mangarerak Barimbing, S.Th (Pembimas Kristen DKI Jakarta), Dr. Yan Maringka (mewakili Bpk. Hashim Djojohadikusumo), Sekjen MUKI, Pdt. Dr. Joice Ester, Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu, Ketua Umum API, Pdt. Brigjen TNI (Purn) Harsanto Adi, M.Th, Senator asal Papua, Paul Finsen Mayor, S.I.P, dan lainnya.

Mewakili tamu undangan, Ketua Umum DPP Asosiasi Pendeta Indonesia (API), Pdt. Brigjen (Purn) Harsanto Adi, M.M, M.Th, memberikan apresiasi tinggi atas kemajuan GBIN yang dalam waktu singkat telah berdiri di 15 provinsi. “Saya mengikuti sejak awal pendiriannya. Luar biasa! Dua tahun sudah ada di 15 provinsi. Sementara API butuh 20 tahun untuk mencapai itu,” ungkapnya kagum. Sementara, mewakili tokoh nasional Hashim Djojohadikusumo (adik Presiden RI, Prabowo). berpesan, pentingnya peran gereja dalam membina rohani umat serta memperkuat persatuan di tengah keberagaman. “GBIN sebagai bagian dari tubuh Kristus di Indonesia diharapkan terus memberi kontribusi dalam membangun masyarakat yang rukun, adil, dan sejahtera,” tulisnya dalam pesan yang dibacakan. Terkait agenda sidang sinode, Pdt. Ferry memaparkan bahwa persidangan perdana ini memiliki beberapa agenda diantaranya; Mendengar Laporan-laporan pelayanan dari GBIN daerah, mengesahkan Tata Gereja GBIN, menyusun program kerja dan anggaran lewat sidang komisi, serta mengadakan pembekalan rohani melalui seminar dan dialog. “Dalam semangat inklusif dan kesetaraan, seluruh hamba Tuhan yang tergabung dalam GBIN diberikan kesempatan penuh untuk terlibat dalam persidangan. Kita tidak membeda-bedakan. Semua boleh bersuara dan berkontribusi. Tata gereja kita fleksibel, bukan untuk menghambat, melainkan untuk mendukung pelayanan agar berjalan baik dan terbuka bagi siapa pun yang rindu melayani,” terang Pdt, Ferry.

Salah satu hal menarik dalam sidang ini, kata Pdt, Ferry, adalah sesi berbagi pengalaman dari para hamba Tuhan mengenai tantangan pelayanan di lapangan. “Sharing ini penting agar kita bisa merespons lewat program-program konkret ke depan,” katanya. Pdt. Ferry menekankan bahwa fokus utama sidang sinode ini adalah menata pondasi organisasi. “Pemilihan Ketua Umum bisa saja dibahas, tetapi semua tergantung dinamika sidang. Bisa juga diputuskan secara aklamasi dan ke drpannya Sidang Sinode GBIN akan ditetapkan untuk digelar setiap empat tahun sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *